Jakarta, 31 Agustus 2026
Pemerintah terbitkan izin operasional bagi 25 program studi (prodi) baru Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) berbasis rumah sakit (hospital-based) sebagai afirmasi untuk para dokter di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).
Kebijakan strategis ini disampaikan oleh Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurrahman seusai rapat Rapat Tingkat Menteri di Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta, pada Senin (31/8).
Program PPDS Hospital Based atau yang biasa disebut PPDS yang diselenggarakan di RS Pendidikan sebagai Penyelenggara Utama (RSPPU) dilakukan sebagai langkah strategis pemerintah dalam menutup gap signifikan sekitar 65.000 dokter spesialis di Indonesia sekaligus meratakan akses layanan kesehatan hingga ke pelosok daerah.
Sejak di luncurkan tahun 2024, Prodi PPDS RSPPU telah diselenggarakan di 6 rumah sakit. Dengan diluncurkan 25 prodi baru di tahap 1 2026, maka total sudah ada 31 prodi PPDS RSPPU.
Dalam rapat tersebut, Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin, menyampaikan bahwa 25 prodi baru pada tahap pertama tahun 2026 ini terdiri dari 11 prodi spesialis dasar dan 14 prodi Kanker, Jantung, Stroke Uronefrologi (KJSU). Seluruh program diselenggarakan di Rumah Sakit Pendidikan terbaik yang bermitra dengan perguruan tinggi guna memastikan standar kompetensi tetap terjaga.
Selain peluncuran tahap pertama, Menkes memastikan bahwa eskalasi program ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun.
“Pada tahap kedua tahun 2026, sebanyak 30 Program Studi Spesialis juga akan didorong memperoleh izin penyelenggaraan pada Oktober 2026, terdiri atas 13 Prodi Spesialis Dasar dan 17 Prodi Spesialis KJSU”, tegas Menkes Budi.
Rapat Tingkat Menteri ini dipimpin langsung oleh Kepala KSP, dan turut dihadiri lintas Kementerian seperti Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi.
Dudung menegaskan bahwa percepatan ini merupakan respons langsung atas instruksi Presiden pada 11 Agustus lalu terkait krisis tenaga medis.
“Ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari kebutuhan saudara-saudara kita di daerah, pulau terluar, hingga ke kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T),” ujar Dudung.
Lebih lanjut, Dudung memaparkan skema pembiayaan pendidikan yang dirancang sangat terjangkau guna menciptakan pemerataan. Kontribusi biaya penyelenggaraan PPDS, baik untuk prodi existing maupun baru, berlaku sama secara resiprokal antara Rumah Sakit Pendidikan dan Perguruan Tinggi.
Seleksi Peserta Didik PPDS RSPPU untuk 25 Program Studi baru ini akan resmi diluncurkan pada Kamis, 3 September 2026. Program ini dikonsep dengan memberikan keberpihakan kepada putra-putri daerah, di mana penempatan kerja pasca-pendidikan telah ditetapkan sejak awal guna mengisi kekosongan tenaga spesialis di wilayah prioritas nasional.
PPDS RSPPU merupakan program pendidikan yang diselenggarakan langsung di rumah sakit yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.
Program ini dikonsep dengan memberikan keberpihakan kepada putra-putri daerah, di mana penempatan kerja pasca-pendidikan telah ditetapkan sejak awal guna mengisi kekosongan tenaga spesialis di wilayah prioritas sesuai perencanaan nasional. Sebanyak 25 prodi baru ini bermitra dengan sembilan perguruan tinggi negeri terkemuka, yakni UNAIR, UNPAD, UNS, UNDIP, UNHAS, USU, UNUD, UB, dan UI.
Sebaran 11 prodi spesialis dasar mencakup: Anestesiologi dan Terapi Intensif di RSUP Fatmawati, RS Ortopedi Prof. dr. Soeharso Surakarta, dan RSU Hermina Depok; Obstetri dan Ginekologi dibuka di RSAB Harapan Kita dan RSIA Bunda Jakarta; Radiologi tersedia di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado, RSUP Persahabatan, dan RSUP Dr. M. Djamil ; Selain itu, Ilmu Penyakit Dalam dan Ilmu Kesehatan Anak diselenggarakan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, serta Ilmu Bedah di RSUD dr Iskak Tulungagung.
Sementara itu, untuk 14 prodi rumpun KJSU dan spesialis unggulan lainnya, pemerintah membuka program sebagai berikut: Bedah Saraf di RS Pusat Otak Nasional dan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo; Bedah Thorax Kardiovaskuler berlokasi di RSUP H Adam Malik dan RSUD Dr. Saiful Anwar; Urologi dibuka di RSUD Dr. Moewardi dan RSUP Prof. dr. I.G.N.G. Ngoerah; disusul oleh Jantung dan Pembuluh Darah di RSUP Dr. Mohammad Hoesin, RSU Murni Teguh, dan RSUD dr. Soedarso. Ekspansi juga mencakup prodi Kedokteran Nuklir di RSUP Dr. Kariadi; Spesialis Kesehatan Mata di Jakarta Eye Centre (JEC) Kedoya dan RSU Murni Teguh Memorial Hospital; serta Orthopaedi dan Traumatologi yang masing-masing dibuka di RSD dr. Soebandi, RSPAD Gatot Soebroto, dan RS Islam Jakarta Cempaka Putih.
Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui hotline 1500-567 atau email [email protected]. (UW/HY)
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik
Aji Muhawarman, ST, MKM