Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Layanan Primer Berdasarkan Siklus Hidup Ujung Tmbak Layanan

186

Jakarta, 27 Juli 2026

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa transformasi pelayanan kesehatan nasional harus berawal dari penguatan layanan kesehatan primer. Melalui Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP), puskesmas kini mereformasi layanannya dari yang semula berbasis penyakit (disease-based) menjadi berpusat pada masyarakat berdasarkan siklus hidup (life cycle-based).

Pernyataan tersebut disampaikan Menkes Budi saat membuka Leimena Conference 2026 yang digelar di Auditorium Widya Graha Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Senin (27/7).

“ILP merupakan reformasi penting. Melalui ILP, masyarakat tidak lagi dilayani secara terpisah-pisah berdasarkan program penyakit, tetapi mendapatkan layanan yang lebih terintegrasi sesuai kebutuhan dan tahap kehidupannya mulai dari balita, usia produktif, hingga lanjut usia,” ujar Menkes Budi.

Perubahan paradigma ini, lanjut Menkes Budi, krusial mengingat struktur demografi Indonesia yang dinamis. Puskesmas tidak hanya fokus pada balita, tetapi wajib memastikan seluruh kelompok usia tetap sehat dan produktif. Sistem kesehatan yang kuat tidak diukur semata dari keberhasilan mengobati orang sakit, melainkan kemampuan menjaga masyarakat tetap sehat melalui upaya promotif dan preventif.

Komitmen transformasi ini dibuktikan dengan progres implementasi ILP yang masif di lapangan. Berdasarkan data Kemenkes per 24 Juli 2026, sebanyak 9.000 puskesmas di seluruh Indonesia telah menerapkan ILP, dan 7.508 puskesmas telah berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Kementerian Kesehatan telah meningkatkan kemampuan kader kesehatan dengan memberi tanda kecakapan kader kesehatan yang memiliki memiliki 25 keterampilan dasar yang terbagi dalam 3 tingkatan kecakapan yaitu Purwa, Madya, dan Utama.

Kader Purwa wajib menguasai 2 kompetensi dasar pengelolaan Posyandu dan juga pelayanan balita serta ditambah 1 kemampuan dasar lain pilihan. Kader madya wajib menguasai 3 kompetensi dasar pengelolaan Posyandu dan pelayanan balita serta layanan ibu hamil, ibu menyusui serta ditambah 1 kemampuan dasar lain pilihan. 

Selanjutnya, kader utama wajib menguasai seluruh kompetensi dasar pengelolaan Posyandu dan pelayanan seluruh siklus hidup.

Penguatan layanan ini juga ditopang oleh keberadaan 156.811 posyandu siklus hidup yang aktif di tingkat masyarakat. Peran ini digerakkan oleh 1.585.254 kader posyandu bidang kesehatan. 

Dari jumlah tersebut, ratusan ribu kader telah tersertifikasi keterampilan, rinciannya: 371.103 kader (23,41%) berstatus Purwa (menguasai 3 kecakapan), 160.923 kader (10,15%) berstatus Madya (menguasai 4 kecakapan), dan 101.961 kader (6,43%) berstatus Utama (menguasai 5 kecakapan).

Leimena Conference 2026, yang mengusung tema "Melalui ILP: Memperkuat Puskesmas, Melayani Masyarakat," diselenggarakan oleh Kemenkes melalui Primary Health Care (PHC) Consortium bekerja sama dengan BRIN dan Pemerintah Australia. 

Nama konferensi ini diambil sebagai bentuk penghormatan kepada Johannes Leimena, Bapak Puskesmas Indonesia, pengonsep Bandung Plan pada tahun 1951.

Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan bahwa tantangan kesehatan masa kini memerlukan solusi berbasis riset dan inovasi keilmuan. "Forum ilmiah seperti Leimena Conference menjadi ruang penting untuk mempertemukan pengetahuan dengan implementasi di lapangan agar kebijakan yang dirumuskan relevan dengan kebutuhan masyarakat," tuturnya.

Dukungan serupa disampaikan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi layanan kesehatan primer sangat bergantung pada sumber daya manusia.

“Ketika kita berbicara tentang pelayanan kesehatan primer, fokus kita sering tertuju pada kebijakan atau anggaran. Namun esensinya, layanan kesehatan primer adalah tentang manusia; para dokter, perawat, bidan, dan kader yang dipercaya oleh masyarakat setempat,” ucap Brazier.

Antusiasme terhadap inovasi kesehatan primer terlihat dari tingginya animo peserta Leimena Conference tahun ini. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, melaporkan panitia menerima 698 abstrak, di mana 537 di antaranya lolos untuk dipresentasikan.

"Leimena Conference menjadi ruang bersama untuk mendokumentasikan, mendiseminasikan, dan memperkuat praktik-praktik baik dari berbagai daerah. Ini sangat bermanfaat bagi perluasan transformasi pelayanan kesehatan primer di Indonesia," jelas Endang.

Leimena Conference 2026 berlangsung pada 27–29 Juli 2026. Acara ini juga menghadirkan Regional Policy Dialogue on Primary Health Care berskala internasional, serta sesi Leaders Talk yang mempertemukan para kepala daerah untuk berbagi strategi penguatan layanan kesehatan primer di wilayah masing-masing.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui hotline 1500-567 atau email kontak@kemkes.go.id. (UW/HY)

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik

Aji Muhawarman, ST, MKM

Artikel Sebelumnya
Hasil Investigasi Kemenkes: Tidak Ditemukan Pelanggaran Tata Kelola pada Kasus Meninggalnya dr. Siti Zahra Maghfira

RILIS KEMENTERIAN KESEHATAN


KALENDER KEGIATAN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-5 Kav. 4-9
Jakarta Selatan 12950
Indonesia

IKUTI KAMI:

© 2026