Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Peringati Hari Kartini, Kemenkes Perkuat Deteksi Dini Preeklamsia Berbasis Teknologi

77

Jakarta, 21 April 2026

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memperkuat upaya deteksi dini preeklamsia berbasis teknologi sebagai langkah strategis menekan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.

Komitmen tersebut ditegaskan melalui kegiatan Sosialisasi dan Deteksi Dini Preeklamsia yang digelar di Auditorium Siwabessy, Gedung Kemenkes RI, Jakarta, Selasa (21/4), dengan melibatkan lebih dari 150 peserta, termasuk ibu hamil dari sejumlah puskesmas di DKI Jakarta. Kegiatan ini juga terhubung dengan pemeriksaan serentak di Kabupaten Garut yang disiarkan langsung dari Puskesmas Cikelabs dan Cikajang.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa pemerintah menargetkan penurunan AKI secara agresif hingga mencapai 40 per 100.000 kelahiran hidup dalam lima tahun ke depan. Upaya ini didukung transformasi sistem kesehatan, termasuk pemerataan akses deteksi dini melalui distribusi alat kesehatan.

“Kita tidak hanya menargetkan penurunan, tetapi penurunan yang agresif. Dari 140, dalam lima tahun ke depan kita harus bisa mencapai 40. Kita harus berani menetapkan target ambisius dan bekerja lebih keras, lebih cerdas, serta lebih tepat,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Saat ini, angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada 140 per 100.000 kelahiran hidup, lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Malaysia. Preeklamsia dan eklamsia menjadi penyebab kematian ibu terbesar kedua, dengan kontribusi sekitar 25 persen dari total kasus.

Sebagai respons, Kemenkes bersama mitra strategis, seperti Queenrides, Telecheksam Indonesia, dan Indonesia Prenatal Institute, menghadirkan inovasi deteksi dini berbasis Internet of Medical Things (IoMT) dan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kualitas skrining.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa inovasi tersebut kini dilengkapi dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada arteri uterina dan arteri oftalmik guna meningkatkan akurasi deteksi.

“Dari hasil awal yang sudah dilakukan, tingkat deteksi meningkat hingga 50 persen. Jika sebelumnya dari empat kasus terdeteksi, dengan tambahan USG ini bisa menjadi enam kasus. Inovasi ini sangat kami sambut baik untuk memperkuat deteksi dini preeklamsia,” ujar Maria Endang Sumiwi.

Founder dan CEO Queenrides, Iim Fahima Jachya, menambahkan bahwa persoalan preeklamsia tidak hanya berkaitan dengan aspek klinis, tetapi juga sistem dan akses terhadap teknologi kesehatan.

“Satu fakta yang tidak banyak diketahui, Ibu Kartini meninggal karena preeklamsia, dan itu terjadi satu abad lalu. Hingga hari ini, preeklamsia masih menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada ibu hamil di Indonesia. Ini bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga isu sistem dan teknologi yang harus terus diperbaiki untuk melindungi masa depan,” ujar Iim Fahima Jachya.

Sejak 2022, Kemenkes telah mendistribusikan perangkat USG ke 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia guna memastikan layanan deteksi dini dapat diakses secara merata, tidak hanya di wilayah perkotaan.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui hotline 1500-567 atau email [email protected]. (FP/HY)

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik

Aji Muhawarman, ST, MKM

Artikel Sebelumnya
Wamenkes Benny Pastikan Pengawasan Ketat Jaga Kualitas Makanan Bergizi Gratis
Artikel Selanjutnya
Wamenkes Tinjau Skrining TB di Pati, Perkuat Deteksi Dini dan Pencegahan Penularan

RILIS KEMENTERIAN KESEHATAN


KALENDER KEGIATAN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-5 Kav. 4-9
Jakarta Selatan 12950
Indonesia

IKUTI KAMI:

© 2026