Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Logo Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Kemenkes Dorong SDM Adaptif dan Kolaborasi Multidisiplin untuk Penanganan Kanker

95

Denpasar, 6 Oktober 2026 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menekankan pentingnya menyiapkan tenaga kesehatan yang kompeten dan adaptif guna menghadapi komplikasi penyakit kompleks, khususnya kanker. 

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus saat membuka The 4th International Conference on Multidisciplinary Approaches in Health Sciences (ICMAHS) 2026 di Auditorium Poltekkes Kemenkes Denpasar, Selasa (6/10).

"Penyakit kanker memiliki komplikasi kompleks sehingga membutuhkan keterlibatan berbagai disiplin ilmu untuk meningkatkan kualitas pelayanan pasien," lanjut Wamenkes Benny di hadapan para akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa lintas negara.

Konferensi internasional yang berlangsung pada 6–7 Oktober 2026 ini mengusung tema "Advancing Cancer Care Across the Continuum: Innovations in Early Detection, Precision Treatment, Survivorship, and Quality of Life". Forum ini menjadi wadah kolaborasi global untuk memperkuat deteksi dini, pengobatan presisi, hingga peningkatan kualitas hidup penyintas kanker.

Wamenkes Benny menjelaskan bahwa upaya ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya pada aspek pencegahan dan pengendalian penyakit. Salah satu langkah konkret yang didorong adalah program Cek Kesehatan Gratis.

"Banyak kasus penyakit seperti hipertensi dan diabetes sebenarnya bisa dicegah. Sering kali pasien baru menyadari kondisi penyakitnya ketika organ tubuh sudah rusak karena tidak bergejala pada tahap awal," jelasnya.

Selain upaya skrining dasar, Kemenkes juga mengintensifkan program pencegahan kanker serviks melalui imunisasi Human Papillomavirus (HPV). Vaksinasi ini diberikan secara bertahap dengan sasaran utama siswi kelas 5 dan 6 SD, sebelum diperluas ke kelompok usia lainnya sesuai ketersediaan anggaran.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Poltekkes Kemenkes Denpasar, Erika Yulita Ichwan, menegaskan bahwa penanganan kanker harus dilakukan secara berkesinambungan. Mulai dari promosi kesehatan, deteksi dini, terapi tepat, hingga masa pasca-pengobatan (survivorship).

Erika menambahkan, indikator keberhasilan perguruan tinggi kesehatan tidak hanya diukur dari jumlah lulusan atau publikasi ilmiah, melainkan dari sejauh mana inovasi yang dihasilkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

"Kami ingin penelitian tidak berhenti pada publikasi dan inovasi tidak mandek sebagai prototipe. Keduanya harus diterjemahkan menjadi praktik berbasis bukti (evidence-based practice) serta rekomendasi bagi pembangunan kesehatan," kata Erika.

Dalam sambutannya, Wamenkes Benny turut mengapresiasi capaian indikator kesehatan Provinsi Bali, seperti rendahnya angka stunting (gagal tumbuh pada anak), TBC, dan kematian ibu. Kemenkes berencana mempelajari praktik baik (best practice) dari Bali untuk diterapkan secara nasional.

Wamenkes Benny juga meninjau pameran inovasi mahasiswa dan membuka peluang agar produk makanan sehat buatan Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar dapat diintegrasikan sebagai varian menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui hotline 1500-567 atau email [email protected]. (UW/HY)

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik

Aji Muhawarman, ST, MKM

Previous Article
Kemenkes Pastikan Imunisasi Tetap Dilanjutkan Usai Kajian KIPI di Kampar
Next Article
KKSK Bahas Penguatan Pengawasan Obat, Kratom, dan Reformasi Jaminan Kesehatan


KALENDER KEGIATAN