Lyon, Prancis, 21 Mei 2026
Pemerintah Indonesia terus mendorong transformasi besar dalam pengendalian kanker melalui perluasan layanan deteksi dini, pemerataan infrastruktur kesehatan, dan percepatan kolaborasi global.
Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam sesi Ministerial Roundtable: Science Policy Interface for Global Change pada Konferensi Ilmiah Internasional IARC@60 di La Halle Tony Garnier, Lyon, Prancis, Kamis (21/5).
Konferensi bertema Cancer Research into Action itu mempertemukan ilmuwan, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara. Forum tersebut menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memaparkan komitmen nasional dalam menekan beban kanker sekaligus berkontribusi pada upaya pencegahan global.
Dalam kesempatan itu, Menkes Budi menjelaskan bahwa Indonesia telah meluncurkan Rencana Pengendalian Kanker Nasional pertama pada 2024 sebagai fondasi reformasi layanan kanker. Deteksi dini kini menjadi prioritas utama, terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis, dengan target skrining meningkat tajam dari 70 juta orang pada tahun lalu menjadi 136 juta orang pada tahun ini.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah mempercepat pemerataan akses alat diagnostik. Langkah konkret yang dilakukan meliputi pemenuhan USG ke ~10.000 Puskesmas untuk deteksi kanker payudara, penyediaans 361 unit mamografi untuk memperkuat layanan di 514 kabupaten/kota, serta penambahan CT scan di 514 kabupaten/kota.
Selain itu, unit pencitraan PET scan akan dikembangkan dari dua menjadi 16 unit di 16 provinsi pada 2027. Di sisi pencegahan, program imunisasi HPV dipercepat menjadi satu dosis dan akan diperluas ke anak laki-laki serta kelompok usia lainnya mulai tahun ini.
Meski infrastruktur berkembang pesat, Menkes Budi mengakui keterbatasan tenaga spesialis masih menjadi tantangan utama. Kapasitas pendidikan pun dinilai belum mampu mengimbangi percepatan pembangunan fasilitas fisik.
Untuk mengatasinya, pemerintah mendorong reformasi pendidikan kedokteran serta memanfaatkan pemeriksaan patologi berbasis digital dan konsultasi jarak jauh sebagai solusi sementara. Pemerintah juga membuka kemitraan dengan sektor swasta untuk mempercepat penyediaan alat untuk mendukung layanan kanker.
Selain itu, Indonesia berencana langsung mengadopsi terapi kanker generasi terbaru agar tidak tertinggal dalam pengembangan teknologi pengobatan.
Penguatan data melalui registrasi kanker lewat platform SatuSehat juga menjadi fokus utama. Pemerintah menargetkan kota-kota di Indonesia dapat masuk ke dalam database insidensi kanker global secara bertahap setiap lima tahun.
Menkes menegaskan, kolaborasi internasional, termasuk dengan International Agency for Research on Cancer, World Health Organization, dan berbagai lembaga riset global menjadi kunci agar Indonesia mampu mengadopsi praktik terbaik secara efisien tanpa harus mengulang proses yang mahal dan memakan waktu.
“Transformasi pengendalian kanker tidak bisa dilakukan sendiri. Dengan sinergi riset, kebijakan, dan kerja sama global, kita bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa,” ujar Menkes.
Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui hotline Halo Kemenkes 1500-567 atau email [email protected]. (UW/HY).
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik
Aji Muhawarman, ST, MKM