Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Sinergi di Debarkasi Bandara Soetta Turunkan Angka Kesakitan Jemaah Haji Indonesia

168

Sinergi di Debarkasi Bandara Soetta Turunkan Angka Kesakitan Jemaah Haji Indonesia

Tangerang, 2 Juni 2026

Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Oktavianus, menegaskan bahwa penguatan deteksi dini melalui active case finding dan kolaborasi lintas sektor di pintu masuk negara menjadi kunci keberhasilan dalam melindungi kesehatan jemaah haji dan masyarakat. Hal ini disampaikannya saat meninjau langsung proses debarkasi atau pemulangan jemaah haji kloter perdana Provinsi Banten di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (2/6).

Wamenkes Benny juga menyoroti efektivitas skrining kesehatan ketat yang telah dimulai sejak fase keberangkatan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Kebijakan pembatalan keberangkatan bagi calon jemaah yang tidak memenuhi syarat kesehatan terbukti berdampak signifikan terhadap penurunan angka kesakitan dan kematian.

"Jadi waktu sebelumnya saya ke Asrama Haji Pondok Gede saat pemberangkatan, saya cek ada 14 calon jemaah haji yang dibatalkan pemberangkatannya karena kondisi kesehatannya tidak baik. Buktinya, angka kesakitan dan angka meninggal otomatis turun jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," tegasnya.

Fase debarkasi merupakan tahapan yang sangat penting dalam penyelenggaraan ibadah haji. Pada tahap ini, Kementerian Kesehatan memastikan bahwa setiap jemaah mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal serta dilakukan pemantauan kesehatan secara menyeluruh untuk mendeteksi secara dini kemungkinan adanya penyakit menular maupun masalah kesehatan lainnya yang memerlukan tindak lanjut.

Pola deteksi dini ini berlanjut di Bandara Soekarno-Hatta saat jemaah kembali. Wamenkes meninjau langsung pos kesehatan di area debarkasi, di mana petugas melakukan observasi visual dan menggunakan alat pemindai suhu tubuh (thermo scanner) terhadap para jemaah yang baru tiba. Jemaah yang terlihat tidak sehat atau diduga mengalami masalah kesehatan langsung dibawa ke pos kesehatan untuk pemeriksaan lebih intensif.

"Begitu kelihatan jemaah yang sudah pulang ini ada suspek tidak sehat, langsung dilakukan cek kesehatan. Dalam kloter ini ada enam orang yang dicek kesehatannya, sekarang masih ada yang diobservasi karena kondisi fisik menurun akibat kelelahan hingga timbul sakit. Nah, ini bisa langsung dikontrol dari sini," jelas Wamenkes Benny.

Senada dengan Wamenkes, Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, menjelaskan bahwa proses aktif menemukan kasus (active case finding) dilakukan terhadap seluruh jemaah yang tiba di wilayah kerjanya. Bandara Soekarno-Hatta melayani pemulangan jemaah dari Embarkasi Jakarta, yaitu di Asrama Haji Pondok Gede (DKI Jakarta dan Lampung), Embarkasi Banten, dan Embarkasi Jakarta-Bekasi (wilayah Jawa Barat bagian barat seperti Bekasi dan Bogor).

"Pada saat jemaah haji lewat, petugas kami melakukan observasi visual untuk melihat ada tidaknya tanda dan gejala sakit seperti batuk, pilek, atau panas. Jika ditemukan gejala tersebut, jemaah akan dibawa ke pos kesehatan untuk registrasi, pemeriksaan tensi, asesmen dokter, hingga pemeriksaan laboratorium," papar Naning.

Ia menambahkan bahwa kondisi kegawatdaruratan yang paling sering ditemukan pada jemaah yang baru tiba adalah serangan jantung dan sesak napas. "Ada yang sudah ditangani dengan CPR di atas pesawat, ada yang baru turun langsung mengalami serangan jantung, atau penyakit kronis lainnya. Prinsip kami adalah memberikan pertolongan pertama dan langsung merujuk ke rumah sakit terdekat dari lokasi kegawatdaruratan," ujarnya.

Untuk melayani kedatangan hampir 1.600 jemaah haji pada hari itu saja (2/6), BBKK Soekarno-Hatta menyiagakan tenaga kesehatan lengkap yang bekerja dalam sistem 24 jam. "Ada dokter spesialis kedokteran penerbangan, dokter umum, epidemiolog, entomolog, sanitarian, perawat, sopir ambulans, tenaga humas, hingga tenaga pendukung lainnya" rinci Naning.

Wamenkes Benny menegaskan, keberhasilan pengamanan kesehatan jemaah haji ini bukanlah kerja satu pihak, melainkan buah dari kerja sama erat lintas sektor.

"Dukungan datang dari mana-mana. Ada teman-teman dari AirNav yang mengatur lalu lintas udara, kepolisian, Badan Karantina, otoritas bandara, hingga Angkasa Pura yang menyiapkan ruangan dan alat-alat dengan sangat bagus. Ambulans standby untuk kondisi darurat. Ini membuktikan sinergi lintas sektor berdampak pada penurunan kasus yang sangat drastis," tutupnya.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui hotline 1500-567 atau email [email protected]. (UW/HY)

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik 

Aji Muhawarman, ST, MKM

Previous Article
Wamenkes Dante Dorong Layanan Fertilitas yang Canggih dan Humanis
Next Article
Penyakit Hati Mengintai, Menkes Ajak Masyarakat Rutin Deteksi Dini melalui CKG

MINISTRY OF HEALTH RELEASE


KALENDER KEGIATAN

Ministry of Health Republic of Indonesia
Jl. H.R. Rasuna Said, Block X-5, Kav. 4–9
South Jakarta 12950
Indonesia

FOLLOW US:

© 2026