Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

Menkes Ajak Masyarakat Tidak Takut Periksa Gejala Kusta

78

Jakarta, 15 Januari 2026

Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri apabila mengalami gejala kusta. Ia menegaskan bahwa kusta bukan penyakit mistik atau kutukan, melainkan penyakit menular yang penyebabnya telah lama diketahui secara ilmiah dan dapat disembuhkan.

“Kusta bukan penyakit mistik atau kutukan. Ini penyakit yang disebabkan oleh bakteri, dan ilmu pengetahuannya sudah jelas sejak lebih dari satu abad lalu,” ujar Menkes Budi dalam media briefing terkait kondisi kusta di Indonesia, Kamis (15/1), di Perpustakaan Wisma Habibie Ainun, Jakarta.

Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Terjadinya kusta merupakan hasil interaksi berbagai faktor, yaitu pejamu (host), kuman (agent), dan lingkungan. Penularan terjadi melalui kontak yang erat dan berkepanjangan dengan seseorang yang terinfeksi kusta.

Gejala kusta dapat ditandai dengan munculnya bercak kulit merah atau putih yang tidak gatal, tampak mengkilap atau kering bersisik, kulit yang tidak berkeringat, rontoknya alis mata, penebalan pada wajah dan telinga, serta lepuh atau luka tidak nyeri pada tangan atau kaki.

Gangguan pada saraf juga dapat terjadi, seperti nyeri pada saraf tepi, kesemutan, rasa tertusuk atau nyeri pada anggota gerak, kelemahan otot atau kelopak mata, disabilitas atau deformitas tanpa riwayat kecelakaan, serta ulkus yang sulit sembuh.

Menkes Budi menjelaskan bahwa pengobatan kusta telah tersedia dan terbukti efektif. Ia menekankan bahwa setelah pengobatan dimulai, risiko penularan dapat dihentikan dalam waktu singkat.

“Begitu pengobatan dimulai, dalam waktu kurang dari satu minggu pasien sudah tidak menularkan lagi,” jelasnya.

Namun demikian, stigma dan disinformasi masih menjadi tantangan dalam upaya penanganan kusta. Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat enggan memeriksakan diri sehingga penemuan kasus sering kali terlambat.

Senada dengan Menkes Budi, peneliti The Habibie Center, Ansori, menilai bahwa penanganan kusta tidak dapat dilihat hanya dari sisi medis. Faktor sosial, menurutnya, memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan pengendalian penyakit ini.

“Banyak orang yang sebenarnya sudah mengetahui dirinya terkena kusta, tetapi memilih menyembunyikannya karena takut terhadap konsekuensi sosial,” ujar Ansori.

Ia menambahkan bahwa stigma dan diskriminasi membuat penderita enggan berobat, sehingga berdampak pada keterlambatan deteksi dan proses penyembuhan.

Sementara itu, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, menyebut Indonesia memiliki peran penting dalam upaya penanganan kusta secara global.

“Eliminasi kusta tidak hanya tentang pengobatan medis, tetapi juga tentang menghapus stigma dan memulihkan martabat manusia,” kata Sasakawa.

Melalui ajakan tersebut, Menkes Budi kembali menegaskan pentingnya peran masyarakat untuk tidak ragu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala kusta, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan RI.Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui hotline 1500-567, SMS 081281562620, atau email [email protected]. (PCK/SK)

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik

Aji Muhawarman, ST, MKM

Previous Article
Relawan TCK Kemenkes Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis di Huntara

MINISTRY OF HEALTH RELEASE


KALENDER KEGIATAN

Ministry of Health Republic of Indonesia
Jl. H.R. Rasuna Said, Block X-5, Kav. 4–9
South Jakarta 12950
Indonesia

FOLLOW US:

© 2026